Komponen Utama Cooling Tower dan Prinsip Desainnya

Daftar Isi

Kelas Teknisi | Cooling tower merupakan peralatan pelepas panas yang banyak digunakan pada sistem HVAC sentral, chiller plant, pembangkit listrik dan berbagai proses industri. Tugas utamanya adalah membuang panas dari air sirkulasi ke atmosfer sehingga air yang telah didinginkan dapat digunakan kembali untuk mengambil panas dari sistem.

Pada wet cooling tower, proses pendinginan terjadi melalui perpindahan panas dan massa antara air dan udara. Sebagian kecil air menguap dan membawa panas laten, sehingga temperatur air yang tersisa turun. Karena itu, cooling tower berbeda dengan radiator atau dry cooler yang pada dasarnya mengandalkan perpindahan panas sensibel tanpa evaporasi air proses yang sama.

Agar proses tersebut berlangsung efektif, cooling tower membutuhkan beberapa komponen penting seperti fill, nozzle, fan, drift eliminator, louvers, basin, sistem distribusi air dan sistem make-up/blowdown. Kondisi komponen-komponen tersebut sangat memengaruhi performa aktual di lapangan.

Prinsip dasarnya: air panas didistribusikan di dalam cooling tower → kontak dengan udara diperbesar → sebagian air menguap → panas berpindah ke udara → temperatur air turun → air dingin terkumpul di basin dan kembali ke sistem.

Bagaimana Prinsip Kerja Cooling Tower?

Pada open-circuit wet cooling tower, air panas dari condenser atau proses masuk ke bagian distribusi cooling tower. Air kemudian disemprotkan atau didistribusikan ke atas fill media.

Fill memperbesar area dan waktu kontak antara air dengan udara. Udara bergerak melewati aliran air karena bantuan fan atau, pada desain tertentu, karena natural draft.

Ketika air dan udara berkontak, sebagian kecil air mengalami evaporasi. Energi yang dibutuhkan untuk proses penguapan tersebut diambil dari air yang tersisa sehingga temperatur air turun.

Air Panas
↓
Water Distribution / Nozzle
↓
Fill Media ← Udara
↓
Perpindahan Panas + Evaporasi
↓
Air Dingin
↓
Cold Water Basin

Air yang sudah dingin kemudian terkumpul pada cold water basin dan dipompa kembali menuju condenser atau equipment proses.

Komponen Utama Cooling Tower dan Fungsinya

Konfigurasi cooling tower dapat berbeda antarprodusen, kapasitas dan jenis tower. Namun pada mechanical-draft wet cooling tower, beberapa komponen berikut umum ditemukan.

1. Struktur, Rangka dan Casing

Rangka atau struktur berfungsi menopang komponen cooling tower seperti casing, fan deck, fill, sistem distribusi air dan komponen mekanis lainnya.

Material konstruksinya dapat berupa baja galvanis, stainless steel, FRP/fiberglass, beton, kayu yang sesuai aplikasi, atau kombinasi material lainnya tergantung ukuran, lingkungan dan desain tower.

Pemilihan material harus mempertimbangkan korosi, beban struktur, temperatur, kelembapan, kualitas air, paparan lingkungan dan umur desain.

2. Fill Media

Fill merupakan salah satu bagian terpenting pada wet cooling tower karena membantu meningkatkan kontak antara air dan udara sehingga proses perpindahan panas dan massa berlangsung lebih efektif.

Secara umum terdapat dua kelompok fill yang banyak dikenal, yaitu film fill dan splash fill.

Film Fill

Film fill dirancang agar air membentuk lapisan tipis pada permukaannya. Dengan luas permukaan kontak yang besar, perpindahan panas dan massa dapat berlangsung efektif dalam volume fill yang relatif kompak.

Namun passage yang relatif rapat pada sebagian desain film fill membuatnya lebih sensitif terhadap fouling, scale atau suspended solids dibandingkan desain yang mempunyai jalur lebih terbuka.

Splash Fill

Splash fill bekerja dengan memecah aliran air menjadi tetesan yang lebih kecil ketika air mengenai batang atau elemen fill.

Desain ini dapat lebih toleran terhadap kondisi air yang mempunyai kecenderungan fouling atau kandungan padatan tertentu dibandingkan film fill yang rapat, meskipun pemilihan tetap harus mengikuti kondisi air dan desain tower.

Aspek Film Fill Splash Fill
Prinsip Membentuk film air tipis Memecah air menjadi tetesan
Kepadatan Dapat lebih kompak Umumnya lebih terbuka
Fouling Desain rapat dapat lebih sensitif Dapat lebih toleran pada aplikasi tertentu

3. Hot Water Distribution System

Sebelum air mencapai fill, air panas harus didistribusikan secara merata. Sistem distribusi dapat berupa header, branch pipe, basin distribusi atau konfigurasi lain tergantung jenis cooling tower.

Distribusi yang tidak merata dapat menyebabkan sebagian fill menerima terlalu banyak air sementara area lainnya kekurangan air. Kondisi ini menurunkan pemanfaatan area fill dan dapat mengurangi performa tower.

4. Nozzle

Nozzle digunakan untuk mendistribusikan air ke area fill dengan pola yang sesuai desain.

Pada counterflow tower, pressurized spray nozzle banyak digunakan untuk mendistribusikan air dari bagian atas menuju fill.

Sedangkan pada crossflow tower, distribusi air dapat menggunakan hot-water basin dengan orifice/nozzle dan memanfaatkan gravitasi. Karena itu tidak semua cooling tower menggunakan sistem nozzle bertekanan dengan konfigurasi yang sama.

Nozzle yang tersumbat, rusak atau tidak sesuai dapat menyebabkan dry spot pada fill dan membuat distribusi air tidak merata.

5. Drift Eliminator

Drift eliminator berfungsi menangkap droplet air yang ikut terbawa bersama udara keluar dari cooling tower.

Komponen ini membuat aliran udara mengalami perubahan arah sehingga droplet air mempunyai kecenderungan menabrak permukaan eliminator dan kembali ke sistem.

Drift eliminator penting untuk mengurangi kehilangan air dan pelepasan aerosol/droplet ke lingkungan. Namun perlu dipahami bahwa drift berbeda dengan evaporasi. Air yang benar-benar telah berubah menjadi uap tidak dapat “ditangkap kembali” oleh drift eliminator dengan mekanisme yang sama.

6. Air Inlet dan Louvers

Air inlet merupakan area masuknya udara ke cooling tower. Jalur ini harus dirancang agar hambatan udara tidak berlebihan dan distribusi udara menuju fill tetap baik.

Pada beberapa cooling tower terdapat louvers yang membantu mengendalikan percikan air keluar, membatasi masuknya benda asing tertentu dan membantu mengarahkan aliran udara.

Kondisi louvers perlu diperiksa karena sumbatan kotoran dapat meningkatkan hambatan aliran udara.

7. Fan

Pada mechanical-draft cooling tower, fan berfungsi menggerakkan udara melalui tower.

Fan aksial banyak digunakan pada cooling tower berkapasitas besar karena mampu memindahkan volume udara tinggi pada static pressure yang sesuai aplikasinya. Fan sentrifugal juga digunakan pada desain tertentu, terutama pada beberapa packaged/forced-draft tower.

Kondisi fan sangat memengaruhi airflow. Pemeriksaan lapangan dapat meliputi kondisi blade, pitch angle jika adjustable, balance, vibration, bearing dan clearance sesuai rekomendasi produsen.

8. Fan Motor

Motor listrik menyediakan tenaga mekanis untuk memutar fan. Motor dapat menggerakkan fan secara langsung atau melalui sistem transmisi mekanis.

Parameter yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Arus motor.
  • Tegangan.
  • Temperatur bearing dan winding sesuai fasilitas monitoring.
  • Vibrasi.
  • Kondisi terminal.
  • Arah putaran.
  • Proteksi motor.

Pada sistem modern, motor fan sering dikendalikan menggunakan Variable Frequency Drive (VFD) agar kecepatan fan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pendinginan.

9. Gearbox, Drive Shaft atau Direct Drive

Pada cooling tower tertentu, putaran motor diteruskan menuju fan melalui drive shaft dan gearbox. Gearbox mengatur kecepatan putaran agar sesuai dengan kebutuhan fan.

Namun tidak semua cooling tower menggunakan gearbox. Terdapat desain belt drive maupun direct drive.

Untuk unit dengan gearbox, pemeriksaan oli, seal, alignment, temperatur, vibrasi dan kondisi gear menjadi bagian penting dari preventive maintenance.

10. Cold Water Basin

Cold water basin berada di bagian bawah tower dan menampung air yang telah melewati fill.

Basin biasanya berhubungan dengan beberapa komponen lain seperti:

  • Outlet menuju pompa.
  • Strainer.
  • Make-up water connection.
  • Overflow.
  • Drain.
  • Blowdown/bleed-off.
  • Level control.

Kondisi basin perlu dijaga dari akumulasi sediment, sludge dan pertumbuhan biologis karena dapat memengaruhi kualitas air dan operasi sistem.

11. Strainer

Strainer membantu mencegah debris berukuran relatif besar masuk ke suction piping atau pompa.

Strainer yang tersumbat dapat meningkatkan pressure drop dan mengurangi aliran. Karena itu kondisi strainer merupakan salah satu item yang perlu diperiksa ketika terjadi masalah flow.

12. Make-Up Water System

Cooling tower kehilangan air melalui evaporasi, drift dan blowdown. Air tersebut harus diganti menggunakan make-up water.

Pengaturan level dapat menggunakan float valve mekanis atau level sensor dan control valve, tergantung desain sistem.

Level yang terlalu rendah dapat menyebabkan masalah pada sirkulasi, sedangkan level terlalu tinggi dapat menyebabkan overflow.

13. Blowdown atau Bleed-Off

Ketika sebagian air menguap, mineral terlarut tidak ikut menguap dan akan terkonsentrasi pada air sirkulasi. Jika dibiarkan, konsentrasi mineral dapat meningkatkan risiko scale, korosi atau masalah kualitas air lainnya.

Karena itu sebagian air sirkulasi dikeluarkan melalui blowdown atau bleed-off dan digantikan dengan make-up water.

Pada instalasi modern, blowdown dapat dikontrol menggunakan conductivity controller sesuai strategi water treatment.

Jenis Desain Cooling Tower Berdasarkan Arah Aliran

Dua konfigurasi yang sangat umum adalah counterflow dan crossflow. Perbedaannya terutama terletak pada arah relatif aliran udara terhadap air.

1. Counterflow Cooling Tower

Pada counterflow cooling tower, air bergerak turun sementara udara bergerak ke atas sehingga keduanya mengalir dalam arah yang berlawanan.

Air ↓
↑ Udara

Distribusi air pada desain ini umumnya menggunakan spray system di atas fill. Konfigurasi counterflow dapat menghasilkan footprint yang relatif kompak untuk kebutuhan tertentu, tetapi kebutuhan pressure pada sistem spray dan akses maintenance perlu diperhitungkan.

2. Crossflow Cooling Tower

Pada crossflow cooling tower, air bergerak ke bawah karena gravitasi sementara udara bergerak secara horizontal melintasi fill.

Air ↓

Udara → Fill

Crossflow tower sering menggunakan hot-water distribution basin di bagian atas. Salah satu keuntungan praktis desain ini pada banyak konfigurasi adalah akses terhadap bagian distribusi air yang relatif mudah.

Tidak tepat menyatakan bahwa salah satu tipe selalu lebih efisien daripada tipe lainnya. Performa aktual bergantung pada ukuran tower, fill, airflow, water loading, kondisi desain, fan, distribusi air dan parameter operasi lainnya.

Induced Draft dan Forced Draft

Selain dibedakan berdasarkan arah aliran air dan udara, mechanical-draft cooling tower juga dapat diklasifikasikan berdasarkan posisi fan.

Induced Draft

Pada induced-draft cooling tower, fan berada di sisi discharge sehingga menarik udara melalui tower dan membuangnya ke atas atau keluar sesuai konfigurasi.

Konfigurasi ini sangat umum pada cooling tower HVAC dan industri.

Forced Draft

Pada forced-draft cooling tower, fan ditempatkan pada sisi air inlet dan mendorong udara masuk ke tower.

Masing-masing desain mempunyai karakteristik berbeda dalam hal airflow, recirculation, fan arrangement, maintenance dan kebutuhan instalasi.

Parameter Penting dalam Desain Cooling Tower

Cooling tower tidak cukup dipilih berdasarkan kapasitas motor fan atau ukuran fisiknya. Engineer perlu menentukan kondisi thermal yang harus dipenuhi.

1. Hot Water Temperature

Merupakan temperatur air yang masuk ke cooling tower setelah menerima panas dari condenser atau proses.

2. Cold Water Temperature

Merupakan temperatur air yang meninggalkan cooling tower dan kembali menuju sistem.

3. Range

Range adalah selisih antara temperatur air panas masuk dan temperatur air dingin keluar.

Range = Thot water − Tcold water

Contoh:

Air masuk = 35°C
Air keluar = 30°C

Range = 35 − 30 = 5°C

Range terutama berhubungan dengan heat load dan laju aliran air. Karena itu range bukan sekadar indikator bahwa tower “semakin bagus” ketika nilainya semakin besar.

4. Wet-Bulb Temperature

Wet-bulb temperature udara masuk merupakan parameter lingkungan yang sangat penting pada wet cooling tower.

Secara praktis, temperatur air dingin yang dapat dicapai oleh wet cooling tower dibatasi oleh kondisi wet-bulb udara. Cooling tower tidak dapat begitu saja menghasilkan air lebih dingin tanpa mempertimbangkan kondisi psikrometrik tersebut.

5. Approach

Approach adalah selisih antara temperatur air dingin keluar cooling tower dengan wet-bulb temperature udara masuk.

Approach = Tcold water − Twet bulb

Contoh jika:

Cold water = 30°C
Wet bulb = 27°C

Approach = 3°C

Untuk heat load, water flow dan kondisi udara tertentu, approach yang lebih dekat biasanya membutuhkan kemampuan thermal tower yang lebih besar. Karena itu target approach mempunyai pengaruh langsung terhadap pemilihan ukuran dan biaya cooling tower.

6. Heat Load

Cooling tower harus mampu membuang panas sesuai kebutuhan sistem. Untuk air, perhitungan dasar heat load dapat ditulis:

Q = ṁ × cp × ΔT

Keterangan:

  • Q = heat transfer rate.
  • ṁ = mass flow rate air.
  • cp = specific heat air.
  • ΔT = range temperatur air.

Sebagai pendekatan untuk air, cp sekitar 4,18 kJ/kg·K pada kondisi yang relevan, tetapi nilai yang digunakan pada perhitungan engineering sebaiknya disesuaikan dengan temperatur dan fluida sebenarnya.

7. Water Flow Rate

Laju aliran air harus sesuai dengan heat load dan karakteristik tower. Flow terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat mengubah distribusi air, range dan titik operasi sistem.

Karena itu jangan langsung menyimpulkan performa cooling tower hanya dari temperatur masuk dan keluar tanpa mengetahui flow.

8. Airflow

Airflow menentukan jumlah udara yang berinteraksi dengan air. Airflow dapat dipengaruhi oleh kecepatan fan, kondisi blade, blockage pada air inlet/fill/drift eliminator dan kondisi lingkungan.

Contoh Perhitungan Sederhana Cooling Tower

Misalnya suatu sistem mempunyai data:

  • Hot water temperature = 35°C
  • Cold water temperature = 30°C
  • Entering wet-bulb temperature = 27°C
  • Water flow = 100 kg/s

Maka:

Range = 35 − 30 = 5°C

Approach = 30 − 27 = 3°C

Dengan pendekatan cp air = 4,18 kJ/kg·K:

Q = 100 × 4,18 × 5

Q ≈ 2.090 kW thermal

Artinya sistem tersebut membuang panas sekitar 2,09 MW thermal pada kondisi flow dan temperatur contoh tersebut.

Perhitungan ini merupakan heat balance sederhana. Pemilihan cooling tower aktual tetap memerlukan data performa tower terhadap wet-bulb, airflow, water loading dan kondisi desain lainnya.

Hubungan Cooling Tower dengan Chiller

Pada sistem water-cooled chiller, cooling tower bekerja pada condenser water loop, bukan langsung pada chilled-water loop.

Cooling Tower
↓
Condenser Water Pump (CWP)
↓
Condenser Chiller
↓
Air Menjadi Lebih Panas
↓
Kembali ke Cooling Tower

Sementara CHWP (Chilled Water Pump) berada pada chilled-water loop yang mendistribusikan chilled water menuju AHU, FCU atau equipment beban lainnya sesuai desain.

Jadi CWP dan CHWP mempunyai fungsi serta loop yang berbeda.

Water Treatment pada Cooling Tower

Water treatment bukan bagian tambahan yang boleh diabaikan. Pada open cooling tower, air terus berkontak dengan atmosfer dan mengalami evaporasi sehingga kualitas air perlu dikendalikan.

Beberapa masalah yang dapat terjadi adalah:

  • Scale atau kerak.
  • Corrosion.
  • Biofilm dan biological growth.
  • Sediment.
  • Fouling.

Parameter water treatment dapat mencakup conductivity, pH, hardness, alkalinity, inhibitor concentration, disinfectant residual dan parameter lain sesuai chemistry air serta program pengolahan yang digunakan.

Blowdown digunakan untuk membantu mengontrol konsentrasi dissolved solids, sedangkan chemical treatment dapat digunakan untuk mengendalikan scale, corrosion dan pertumbuhan mikrobiologis sesuai program yang dirancang.

Cooling Tower dan Risiko Legionella

Cooling tower perlu dikelola dengan serius dari sisi kebersihan dan kualitas air karena dapat menghasilkan aerosol. Jika sistem terkontaminasi Legionella dan tidak dikelola dengan baik, aerosol yang keluar dapat menjadi salah satu jalur penyebaran bakteri.

Karena itu program operasi dan maintenance harus memperhatikan pengendalian sediment, biofilm, scale, corrosion, temperatur, stagnasi serta disinfectant residual sesuai program water management yang berlaku.

Drift eliminator yang baik juga merupakan bagian penting untuk mengurangi droplet yang keluar dari tower.

Penting untuk teknisi: cooling tower bukan sekadar fan + air + fill. Kondisi water treatment dan kebersihan internal tower merupakan bagian dari reliability sekaligus keselamatan operasional.

Prinsip Desain Cooling Tower yang Baik

Desain cooling tower harus mempertimbangkan aspek thermal, mekanikal, elektrikal, kualitas air, lokasi dan maintenance secara bersamaan.

1. Sesuaikan dengan Design Wet-Bulb

Pemilihan tower harus menggunakan kondisi wet-bulb desain lokasi yang sesuai. Menggunakan asumsi temperatur udara yang tidak tepat dapat menghasilkan pemilihan tower yang tidak sesuai kebutuhan.

2. Tentukan Range dan Approach

Engineer harus menentukan hot-water temperature, cold-water temperature dan design wet-bulb sehingga range dan approach dapat dihitung dengan jelas.

3. Pastikan Distribusi Air Merata

Fill tidak dapat bekerja optimal apabila sebagian permukaannya kering akibat nozzle tersumbat atau distribusi air buruk.

4. Pastikan Airflow Tidak Terhambat

Posisi tower, inlet clearance, kondisi louvers, fill dan drift eliminator perlu mendukung aliran udara yang baik.

5. Hindari Recirculation Udara Panas dan Lembap

Udara panas dan lembap yang keluar dari tower sebaiknya tidak mudah kembali masuk ke air inlet. Recirculation dapat menaikkan kondisi wet-bulb udara masuk dan menurunkan kemampuan cooling tower.

6. Perhatikan Lokasi Cooling Tower

Penempatan tower perlu mempertimbangkan building air intake, arah discharge, akses maintenance, kebisingan, plume, drift, struktur dan kondisi lingkungan sekitar.

7. Sediakan Akses Maintenance

Teknisi harus dapat melakukan inspeksi dan maintenance pada fan, motor, gearbox, nozzle, fill, basin, strainer, drift eliminator dan komponen lain secara aman.

Kontrol Fan Cooling Tower dengan VFD

Pada sistem modern, fan cooling tower dapat dikendalikan menggunakan VFD. Tujuannya adalah menyesuaikan airflow dengan kebutuhan pendinginan.

Contoh konsep kontrol:

Temperature Sensor
↓
Controller / PLC
↓
VFD
↓
Fan Motor
↓
Airflow Cooling Tower

Ketika kebutuhan pendinginan menurun, kecepatan fan dapat diturunkan sesuai strategi kontrol. Hal ini dapat mengurangi konsumsi energi fan dibandingkan menjalankan fan terus-menerus pada kecepatan penuh, jika kondisi proses memungkinkan.

Namun setpoint tidak boleh ditentukan sembarangan karena condenser-water temperature juga memengaruhi operasi chiller dan keseluruhan efisiensi plant.

Masalah yang Sering Terjadi pada Cooling Tower

Ketika temperatur air keluar mulai meningkat, penyebabnya tidak selalu karena fan rusak. Troubleshooting sebaiknya dilakukan berdasarkan data.

Gejala Kemungkinan Penyebab Pemeriksaan Awal
Cold-water temperature tinggi Airflow rendah, fill kotor, distribusi air buruk, heat load tinggi atau wet-bulb tinggi Cek temperatur, fan, airflow, nozzle dan fill
Flow air rendah Strainer tersumbat, valve, pompa atau level basin bermasalah Cek pressure, valve, strainer dan pompa
Vibrasi tinggi Fan imbalance, bearing, alignment, gearbox atau struktur Inspeksi fan dan sistem drive sesuai prosedur
Drift berlebihan Drift eliminator rusak/kotor atau kondisi airflow/water loading tidak sesuai Periksa eliminator dan kondisi operasi
Scale pada fill Water chemistry atau blowdown tidak terkendali Evaluasi conductivity dan program water treatment
Motor fan overload Masalah mekanis, fan/pitch, supply listrik atau kondisi operasi Cek arus, tegangan, fan, bearing dan drive

Checklist Pemeriksaan Cooling Tower

Untuk inspeksi rutin, teknisi dapat menggunakan beberapa parameter berikut sebagai titik awal. Interval dan prosedur tetap harus mengikuti manual produsen serta program maintenance fasilitas.

  • Catat hot-water temperature.
  • Catat cold-water temperature.
  • Catat entering wet-bulb temperature bila tersedia.
  • Hitung range dan approach.
  • Periksa level basin.
  • Periksa kondisi strainer.
  • Periksa pola distribusi nozzle.
  • Periksa kondisi fill.
  • Periksa drift eliminator.
  • Periksa fan dan blade.
  • Periksa vibrasi dan suara abnormal.
  • Periksa motor current dan voltage.
  • Periksa gearbox/drive system jika digunakan.
  • Periksa make-up water.
  • Periksa blowdown.
  • Periksa parameter water treatment sesuai program fasilitas.
Tips troubleshooting: jangan langsung menyalahkan cooling tower ketika cold-water temperature naik. Catat terlebih dahulu hot water, cold water, wet-bulb, flow dan heat load. Wet-bulb yang meningkat dapat membuat temperatur air keluar ikut naik meskipun tower tidak mengalami kerusakan.

Kesimpulan

Komponen utama cooling tower meliputi struktur dan casing, fill media, sistem distribusi air, nozzle, drift eliminator, air inlet, louvers, fan, motor, sistem drive, cold-water basin, strainer, make-up water serta blowdown. Setiap komponen mempunyai fungsi berbeda tetapi saling memengaruhi performa tower.

Dari sisi desain, cooling tower tidak cukup dinilai hanya dari seberapa besar temperatur air dapat turun. Engineer perlu memahami heat load, water flow, range, approach dan entering wet-bulb temperature. Kondisi airflow, distribusi air dan kualitas air juga harus diperhitungkan.

Bagi teknisi di lapangan, data tersebut sangat membantu dalam troubleshooting. Cold-water temperature yang meningkat belum tentu berarti cooling tower rusak karena perubahan wet-bulb, peningkatan heat load, penurunan flow, kondisi fill atau masalah airflow juga dapat memberikan gejala serupa.

Selain performa thermal, maintenance dan water treatment harus menjadi perhatian. Scale, corrosion, sediment dan biological growth dapat menurunkan keandalan sistem, sedangkan pengelolaan mikrobiologis yang buruk dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Pelajari pembahasan berikutnya di Cooling Tower: Cara Kerja, Fungsi CHWP dan CWP, Parameter Air untuk memahami hubungan cooling tower dengan chiller dan sistem pompa secara lebih lengkap.

FAQ Cooling Tower

Apa fungsi utama cooling tower?

Cooling tower berfungsi membuang panas dari air sirkulasi ke atmosfer. Pada wet cooling tower, sebagian besar proses pendinginan memanfaatkan perpindahan panas dan massa yang melibatkan evaporasi sebagian air.

Apa fungsi fill pada cooling tower?

Fill meningkatkan area dan waktu kontak antara air dan udara sehingga proses perpindahan panas dan massa menjadi lebih efektif.

Apa fungsi drift eliminator?

Drift eliminator menangkap sebagian besar droplet air yang terbawa aliran udara keluar sehingga mengurangi kehilangan air dalam bentuk drift dan pelepasan droplet ke lingkungan.

Apa perbedaan crossflow dan counterflow?

Pada crossflow, udara bergerak melintasi aliran air secara horizontal sementara air turun. Pada counterflow, udara bergerak ke atas berlawanan arah dengan air yang turun.

Apa itu range pada cooling tower?

Range adalah selisih antara temperatur air panas yang masuk dengan temperatur air dingin yang keluar dari cooling tower.

Apa itu approach cooling tower?

Approach adalah selisih antara temperatur air dingin keluar cooling tower dengan entering-air wet-bulb temperature.

Apakah semakin kecil approach semakin bagus?

Approach yang lebih kecil berarti leaving-water temperature semakin mendekati wet-bulb pada kondisi yang dibandingkan. Namun target approach yang lebih dekat biasanya membutuhkan tower dengan kemampuan thermal lebih besar dan dapat meningkatkan biaya investasi. Karena itu targetnya harus ditentukan berdasarkan kebutuhan sistem, bukan sekadar mengejar angka sekecil mungkin.

Mengapa cooling tower membutuhkan make-up water?

Karena terdapat kehilangan air akibat evaporasi, drift dan blowdown. Make-up water mengganti kehilangan tersebut agar volume dan level air sistem tetap terjaga.

Mengapa cooling tower membutuhkan blowdown?

Evaporasi meninggalkan mineral terlarut di dalam air sirkulasi sehingga konsentrasinya meningkat. Blowdown mengeluarkan sebagian air berkonsentrasi tinggi agar kualitas air dapat dikendalikan sesuai program water treatment.

Apakah cooling tower sama dengan chiller?

Tidak. Chiller menghasilkan chilled water dengan sistem refrigerasi, sedangkan cooling tower membuang panas dari condenser-water loop ke atmosfer pada sistem water-cooled chiller.

Randra Agustio Efryansah, S.T.
Randra Agustio Efryansah, S.T. Lulusan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, jurusan Teknik Elektro. Penulis artikel di bidang Instalasi Tenaga Listrik, Elektronika, dan Energi Terbarukan.

Posting Komentar