PLC Adalah: Pengertian, Fungsi, Cara Kerja dan Komponen

Daftar Isi

Kelas Teknisi | Ketika sebuah conveyor harus berhenti saat sensor mendeteksi benda, pompa otomatis menyala berdasarkan level tangki, atau motor tiga fasa bekerja mengikuti urutan tertentu, dibutuhkan sistem kontrol yang mampu membaca kondisi lapangan dan mengambil keputusan secara cepat. Salah satu perangkat yang paling banyak digunakan untuk kebutuhan tersebut adalah PLC.

PLC atau Programmable Logic Controller merupakan perangkat kontrol digital yang dirancang untuk mengendalikan mesin dan proses industri berdasarkan program yang tersimpan di dalam memorinya. PLC menerima sinyal dari tombol, limit switch, proximity sensor, transmitter dan berbagai perangkat input lainnya, kemudian menjalankan logika program dan memberikan perintah ke contactor, solenoid valve, lampu, drive, motor ataupun actuator.

PLC menjadi bagian penting dalam otomasi industri karena sistem kontrol dapat dimodifikasi melalui software tanpa harus mengubah seluruh rangkaian kontrol seperti pada sistem relay hardwired konvensional.

Jawaban singkat: PLC adalah controller industri yang dapat diprogram untuk membaca input, menjalankan logika program, kemudian mengendalikan output secara otomatis. PLC banyak digunakan pada mesin produksi, conveyor, pompa, motor, sistem pengolahan air, pembangkit, HVAC dan berbagai proses industri.

Apa Itu PLC?

PLC adalah singkatan dari Programmable Logic Controller.

Secara sederhana, tiga kata tersebut dapat dipahami sebagai berikut:

  • Programmable: program kontrol dapat dibuat dan diubah sesuai kebutuhan aplikasi.
  • Logic: controller dapat melakukan operasi logika, perbandingan, timing, counting, arithmetic dan berbagai fungsi pengolahan data.
  • Controller: perangkat bertugas mengendalikan mesin atau proses berdasarkan kondisi input dan program.

PLC dan peripheral terkait memang ditujukan terutama untuk mengendalikan mesin dan proses industri. Dalam keluarga standar internasional, perangkat programmable controller dibahas dalam seri IEC 61131.

Walaupun sering disebut sebagai komputer industri, PLC berbeda dengan komputer desktop biasa. Hardware, software runtime, I/O dan pola operasinya dirancang terutama untuk kebutuhan kontrol yang membutuhkan operasi berulang, deterministik atau mendekati deterministik, serta integrasi dengan perangkat lapangan.

Mengapa PLC Digunakan di Industri?

Sebelum PLC berkembang, banyak mesin dikendalikan menggunakan panel berisi relay, timer, counter dan wiring dalam jumlah besar.

Jika sequence produksi berubah, teknisi mungkin harus:

  • mengubah wiring;
  • menambah relay;
  • memindahkan contact;
  • mengganti timer;
  • memperbarui drawing; dan
  • melakukan pengujian ulang rangkaian.

Dengan PLC, sebagian besar perubahan logic dapat dilakukan melalui program. Wiring field tetap perlu disesuaikan jika hardware atau jumlah I/O berubah, tetapi perubahan urutan operasi tidak selalu memerlukan rewiring seluruh panel.

Hal ini membuat PLC sangat cocok untuk mesin yang membutuhkan sequence, interlock, timer, counter, alarm dan komunikasi dengan perangkat otomasi lainnya.

Sejarah Singkat PLC

Perkembangan PLC modern sangat erat dengan kebutuhan industri otomotif Amerika Serikat pada akhir 1960-an untuk menggantikan sistem kontrol relay hardwired yang sulit dimodifikasi ketika konfigurasi produksi berubah.

Bedford Associates menjadi salah satu pihak yang mengembangkan solusi tersebut. Tim yang melibatkan Dick Morley kemudian mengembangkan programmable controller yang dikenal sebagai Modicon 084.

Nama Modicon berasal dari Modular Digital Controller, sedangkan angka 084 berkaitan dengan nomor proyek Bedford Associates.

Schneider Electric, yang kini menaungi merek Modicon, mencatat perkembangan teknologi tersebut sejak sekitar 1968. Perangkat Modicon 084 kemudian menjadi salah satu tonggak penting lahirnya programmable controller industri.

Sejak saat itu PLC berkembang dari controller sederhana pengganti relay menjadi platform otomasi yang mampu menjalankan:

  • logic control;
  • analog processing;
  • PID control;
  • motion control;
  • industrial communication;
  • data handling;
  • diagnostics;
  • remote I/O;
  • HMI integration; dan
  • SCADA integration.
Contoh PLC Omron untuk otomasi industri

Salah satu contoh perangkat PLC yang digunakan untuk sistem otomasi.

Fungsi PLC

Fungsi PLC jauh lebih luas daripada sekadar menyalakan dan mematikan motor.

1. Kontrol Logika

PLC dapat melakukan operasi Boolean seperti:

  • AND;
  • OR;
  • NOT;
  • XOR;
  • comparison; dan
  • kombinasi kondisi logika lainnya.

Contohnya, motor hanya diperbolehkan hidup jika:

  • tombol START ditekan;
  • emergency stop sehat;
  • overload tidak trip;
  • level minimum terpenuhi; dan
  • tidak ada alarm yang memblokir operasi.

2. Kontrol Sekuensial

PLC sangat cocok untuk mengendalikan proses yang mempunyai urutan tertentu.

Contoh pada conveyor:

  1. Operator menekan START.
  2. Conveyor 1 hidup.
  3. Sensor mendeteksi produk.
  4. Conveyor 2 hidup.
  5. Silinder pneumatik bergerak.
  6. Produk dipindahkan.
  7. Sistem kembali ke posisi awal.

3. Timer

PLC mempunyai timer berbasis software yang dapat digunakan untuk memberi delay atau mengukur waktu kondisi tertentu.

Beberapa konsep timer yang umum dikenal antara lain:

  • ON-delay;
  • OFF-delay; dan
  • retentive timer.

Nama instruction dan perilakunya dapat berbeda antarplatform PLC.

4. Counter

Counter digunakan untuk menghitung event, misalnya:

  • jumlah produk;
  • jumlah cycle mesin;
  • jumlah pulse sensor;
  • jumlah botol melewati conveyor.

5. Pengolahan Sinyal Analog

PLC dapat menerima nilai analog melalui module yang sesuai, misalnya:

  • 4–20 mA;
  • 0–10 V;
  • RTD;
  • thermocouple; atau
  • standard signal lain sesuai module.

Sinyal tersebut dapat berasal dari transmitter pressure, temperature, flow, level dan process instrument lainnya.

6. PID Control

Banyak PLC menyediakan fungsi PID untuk mengendalikan variable process seperti:

  • temperature;
  • pressure;
  • flow;
  • level; dan
  • speed.

7. Interlock dan Permissive

PLC digunakan untuk memastikan equipment hanya dapat dijalankan ketika kondisi operasi yang dipersyaratkan telah terpenuhi.

Sebagai contoh, sebuah pompa dapat dibuat tidak bisa START ketika level suction terlalu rendah.

8. Alarm dan Monitoring

PLC dapat mengolah kondisi fault dan mengirimkannya ke HMI untuk ditampilkan sebagai alarm.

9. Integrasi Sistem

PLC dapat berkomunikasi dengan berbagai perangkat seperti:

  • HMI;
  • SCADA;
  • VFD;
  • servo drive;
  • remote I/O;
  • robot;
  • energy meter;
  • smart instrument;
  • mesin CNC; dan
  • controller lainnya.

Cara Kerja PLC

Salah satu konsep penting dalam PLC adalah scan cycle.

Pada implementasi cyclic controller yang umum, PLC melakukan serangkaian tugas berulang seperti membaca input, menjalankan program dan memperbarui output.

1. Membaca Input

CPU membaca kondisi input dari field device.

Contohnya:

  • push button;
  • selector switch;
  • limit switch;
  • proximity sensor;
  • photoelectric sensor;
  • pressure switch;
  • transmitter analog.

Pada banyak arsitektur PLC, nilai input tersebut disimpan dalam suatu process image atau memory area sehingga program dapat memproses snapshot kondisi input tersebut.

2. Menjalankan Program

CPU mengeksekusi program sesuai struktur dan aturan runtime controller.

Misalnya program berisi logic:

START + STOP sehat + OVERLOAD sehat → MOTOR ON

PLC mengevaluasi kondisi tersebut berdasarkan nilai input dan variable internal.

3. Memperbarui Output

Hasil program kemudian digunakan untuk mengubah kondisi output.

Output tersebut dapat mengendalikan:

  • relay;
  • contactor;
  • lampu;
  • buzzer;
  • solenoid valve;
  • VFD command;
  • control valve;
  • actuator lainnya.

4. Communication dan Diagnostics

Controller modern juga melakukan communication handling, diagnostics dan system task di antara atau selama siklus program sesuai desain platform.

Apa Itu Scan Time PLC?

Scan time adalah waktu yang diperlukan controller untuk menyelesaikan suatu siklus operasi program tertentu.

Nilainya dipengaruhi antara lain oleh:

  • panjang program;
  • jenis instruction;
  • jumlah I/O;
  • communication load;
  • interrupt;
  • CPU performance;
  • task configuration.

Karena faktor tersebut, scan time tidak selalu tetap pada setiap cycle.

Untuk aplikasi yang memerlukan respon sangat cepat, teknisi harus memastikan scan time, update I/O dan task execution sesuai kebutuhan proses.

Contoh Cara Kerja PLC pada Motor

Misalkan terdapat:

  • push button START;
  • push button STOP;
  • overload relay;
  • PLC;
  • contactor;
  • motor tiga fasa.

Push button dan auxiliary contact overload dihubungkan ke digital input PLC.

Digital output PLC kemudian dapat digunakan untuk memberikan command pada coil contactor melalui rangkaian interface yang sesuai.

Saat START ditekan dan seluruh permissive sehat:

Input → PLC Logic → Output → Contactor → Motor

Jika overload trip, PLC membaca perubahan input kemudian mematikan command motor sesuai logic program.

Perlu diperhatikan bahwa proteksi motor tidak boleh bergantung hanya pada software PLC. Motor tetap membutuhkan sistem proteksi yang dirancang sesuai kebutuhan instalasi, misalnya circuit breaker, overload protection dan perangkat keselamatan lainnya.

Bagian dan Komponen PLC

1. CPU

Central Processing Unit merupakan bagian yang mengeksekusi operating system controller dan user program.

CPU dapat menangani:

  • logic execution;
  • timer dan counter;
  • calculation;
  • data handling;
  • communication;
  • diagnostics;
  • memory management.

2. Memory

Memory digunakan untuk menyimpan program, configuration dan data.

Implementasinya dapat berupa volatile maupun non-volatile memory sesuai desain controller.

Karena perkembangan teknologi PLC, tidak semua PLC modern masih menggunakan pola RAM + backup battery seperti controller lama. Retentive memory dan storage mechanism bergantung pada masing-masing platform.

3. Power Supply

Power supply menyediakan tegangan yang diperlukan controller dan module internal.

PLC tersedia dalam berbagai supply rating, misalnya:

  • 24 VDC;
  • 100–240 VAC; atau
  • range lain sesuai model.

Karena itu tidak tepat menganggap seluruh PLC selalu mengubah tegangan jala-jala AC menjadi satu tegangan internal tertentu.

4. Digital Input Module

Digital input menerima kondisi ON/OFF dari perangkat seperti:

  • push button;
  • limit switch;
  • proximity sensor;
  • pressure switch;
  • float switch.

Salah satu voltage level yang sangat umum pada sistem kontrol industri adalah 24 VDC, tetapi rating sebenarnya harus mengikuti input module yang digunakan.

5. Digital Output Module

Digital output memberikan command ON/OFF ke field device atau interface.

Jenis output PLC dapat berupa:

  • relay output;
  • transistor output;
  • triac output pada controller tertentu.

Relay Output vs Transistor Output

Parameter Relay Transistor
Switching Mekanis Semiconductor
Kecepatan Relatif lebih lambat Lebih cepat
Mechanical wear Ada Tidak ada contact mekanik
Jenis beban Tergantung rating contact Umumnya DC dan tergantung konfigurasi output
High-speed pulse Umumnya tidak cocok Dapat tersedia pada output tertentu

6. Analog Input

Analog input digunakan membaca variable process yang mempunyai nilai kontinu.

Contoh:

Pressure Transmitter 4–20 mA → PLC Analog Input

PLC kemudian melakukan scaling, misalnya:

4 mA = 0 bar

20 mA = 10 bar

Dengan scaling tersebut, raw signal dapat dikonversi menjadi engineering unit.

7. Analog Output

Analog output dapat digunakan untuk memberi reference signal ke perangkat seperti:

  • VFD;
  • control valve;
  • positioner;
  • controller lainnya.

Contohnya adalah 4–20 mA atau 0–10 V sesuai module dan device.

8. Communication Module atau Port

PLC modern dapat menyediakan communication interface langsung atau melalui extension module.

Protokol dan network yang dapat dijumpai antara lain:

  • Modbus RTU;
  • Modbus TCP;
  • PROFINET;
  • PROFIBUS;
  • EtherNet/IP;
  • EtherCAT pada platform tertentu;
  • CAN/CANopen pada sistem tertentu;
  • serial communication; dan
  • protocol proprietary manufacturer.

Compact PLC vs Modular PLC

Compact PLC

Compact PLC menggabungkan CPU, power supply atau power input, dan sejumlah I/O dalam satu unit utama.

Kelebihannya antara lain:

  • ukuran kecil;
  • wiring sederhana;
  • praktis untuk mesin kecil;
  • biaya awal dapat lebih rendah.

Modular PLC

Pada modular PLC, CPU, communication dan I/O dapat disusun dari beberapa module.

Keunggulannya:

  • mudah dikembangkan;
  • jumlah I/O lebih fleksibel;
  • dapat menggunakan specialty module;
  • cocok untuk sistem yang lebih kompleks.

Input dan Output PLC

I/O menjadi penghubung antara program PLC dengan kondisi fisik di lapangan.

Input Output
Push button Contactor
Limit switch Solenoid valve
Proximity sensor Indicator lamp
Photoelectric sensor Buzzer
Pressure transmitter VFD command
Temperature transmitter Control valve

Sourcing dan Sinking pada PLC

Pada digital I/O DC, teknisi juga perlu memahami istilah sourcing dan sinking.

Konsep ini berkaitan dengan arah current dan konfigurasi common pada field device maupun I/O module.

PNP sensor umumnya berkaitan dengan sourcing output, sedangkan NPN sensor umumnya berkaitan dengan sinking output.

Namun jangan hanya berpatokan pada istilah PNP/NPN. Periksa:

  • wiring diagram;
  • input common;
  • output common;
  • rated voltage;
  • maximum current; dan
  • manual manufacturer.

Kesalahan konfigurasi sourcing/sinking merupakan salah satu penyebab sensor terlihat bekerja tetapi input PLC tidak berubah.

Bahasa Pemrograman PLC

Bahasa PLC dibahas dalam standar IEC 61131-3.

Pada standar terbaru IEC 61131-3:2025 Edition 4, bahasa program utama meliputi:

1. Ladder Diagram (LD)

Ladder Diagram merupakan bahasa graphical yang tampilannya menyerupai relay ladder logic.

Karena dekat dengan diagram kontrol relay, LD sangat populer di kalangan teknisi listrik dan maintenance.

Logic tersebut menggambarkan konsep seal-in atau self-holding sederhana. Implementasi produksi tetap harus memperhitungkan safety circuit dan failure mode yang sesuai.

2. Function Block Diagram (FBD)

FBD menggunakan block function yang saling dihubungkan.

Bahasa ini banyak digunakan pada:

  • process control;
  • analog processing;
  • PID;
  • logic function;
  • signal processing.

3. Structured Text (ST)

Structured Text merupakan textual programming language dengan bentuk yang lebih dekat dengan bahasa pemrograman tingkat tinggi.

Contoh sederhana:

IF Start AND NOT Stop AND Overload_OK THEN
    Motor_Run := TRUE;
END_IF;

ST cocok untuk calculation, data handling, looping dan algoritma yang akan terlalu panjang apabila dibuat seluruhnya dengan ladder.

4. Sequential Function Chart (SFC)

SFC digunakan untuk menyusun sequence menjadi:

  • step;
  • transition;
  • action.

Pada IEC 61131-3:2025, SFC dijelaskan sebagai graphical dan equivalent textual elements untuk menstrukturkan organisasi internal program dan function block.

Merek PLC yang Banyak Digunakan

Di industri terdapat banyak manufacturer PLC dengan ecosystem masing-masing.

  • Omron
  • Siemens
  • Rockwell Automation / Allen-Bradley
  • Mitsubishi Electric
  • Schneider Electric / Modicon
  • Beckhoff
  • B&R
  • Delta
  • Keyence
  • Panasonic dan lainnya.

Tidak ada satu merek yang selalu terbaik untuk semua aplikasi. Pemilihannya tergantung kebutuhan I/O, network, safety, motion, software, standard plant, spare part dan dukungan teknis.

PLC dan HMI

PLC dan HMI atau Human Machine Interface mempunyai fungsi berbeda.

  • PLC menjalankan control logic.
  • HMI menjadi antarmuka antara operator dan mesin.

Melalui HMI, operator dapat melihat:

  • status motor;
  • level tangki;
  • pressure;
  • temperature;
  • alarm;
  • setpoint;
  • trend sederhana.

HMI kemudian bertukar data dengan PLC melalui communication protocol yang kompatibel.

PLC dan SCADA

Pada sistem yang lebih luas, PLC dapat diintegrasikan dengan SCADA.

PLC menjalankan local control di lapangan, sedangkan SCADA dapat melakukan fungsi supervisory seperti:

  • monitoring;
  • alarm;
  • historian;
  • trend;
  • operator control;
  • data acquisition.

Arsitektur sebenarnya bergantung pada desain sistem dan kebutuhan cybersecurity maupun availability.

PLC vs Relay Control

Parameter PLC Relay Hardwired
Perubahan logic Umumnya melalui program Sering memerlukan rewiring
Timer/counter Software function Memerlukan device tambahan
Complex sequence Lebih mudah dikelola Wiring dapat menjadi kompleks
Diagnostics Dapat tersedia secara detail Lebih bergantung pada pemeriksaan wiring/component
Communication Umum tersedia Sangat terbatas tanpa perangkat tambahan

Walaupun demikian, relay masih digunakan pada banyak sistem untuk isolation, interface, switching ataupun fungsi tertentu. PLC bukan berarti seluruh relay harus dihilangkan dari panel.

PLC vs Microcontroller

PLC dan microcontroller sama-sama dapat menjalankan control logic, tetapi desain dan ecosystem-nya berbeda.

PLC Microcontroller
Produk kontrol industri siap pakai IC/controller yang menjadi bagian desain elektronik
I/O industri sudah tersedia pada platform Sering membutuhkan design interface tambahan
Programming ecosystem untuk automation Firmware development lebih bebas
Maintenance industri relatif mudah bagi teknisi yang terlatih Memerlukan pemahaman hardware/firmware sesuai desain
Harga hardware dapat lebih tinggi Biaya unit dapat sangat rendah untuk produk massal

Microcontroller bukan versi “lebih buruk” dari PLC. Keduanya memang dirancang untuk kebutuhan yang berbeda.

Kelebihan PLC

  • Logic fleksibel karena perubahan sequence dapat dilakukan melalui software.
  • Diagnostics mempermudah troubleshooting.
  • Timer dan counter tersedia secara software.
  • Integrasi I/O digital maupun analog.
  • Communication dengan perangkat industri.
  • Modularitas pada platform tertentu.
  • Maintenance lebih terstruktur bila program dan dokumentasi dikelola dengan baik.
  • Rugged industrial design pada produk yang dirancang sesuai standard dan ratingnya.

Kekurangan PLC

PLC juga mempunyai beberapa keterbatasan:

  • hardware dan software engineering dapat relatif mahal;
  • teknisi membutuhkan training;
  • software antarmanufacturer tidak selalu kompatibel;
  • migration controller lama dapat menjadi pekerjaan besar;
  • program tanpa dokumentasi dapat sulit dipelihara;
  • industrial network meningkatkan kebutuhan cybersecurity;
  • controller tertentu mempunyai licensing ecosystem tersendiri.

Aplikasi PLC di Industri

1. Conveyor

PLC membaca sensor barang kemudian mengendalikan motor, stopper, diverter dan actuator.

2. Sistem Pompa

PLC dapat menjalankan:

  • auto start/stop;
  • duty-standby;
  • alternating pump;
  • level control;
  • dry-run protection logic;
  • alarm.

3. Motor Control

PLC banyak digunakan pada:

4. Water Treatment

PLC mengontrol pump, valve, dosing, level, pressure, flow dan berbagai instrument process.

5. Manufacturing

PLC digunakan pada assembly machine, packaging, filling, palletizer, material handling dan mesin CNC dalam berbagai bentuk integrasi.

6. Pembangkit dan Utility

PLC juga digunakan pada auxiliary system, water treatment, pump system, compressor, conveyor, balance-of-plant dan berbagai sistem kontrol lainnya, tergantung arsitektur plant.

Cara Memilih PLC

Saat memilih PLC jangan hanya melihat merek atau jumlah I/O.

Periksa setidaknya:

  1. Jumlah digital input dan output.
  2. Jumlah analog input dan output.
  3. Jenis dan level sinyal I/O.
  4. CPU performance dan program memory.
  5. Communication protocol.
  6. Remote I/O requirement.
  7. High-speed counter atau pulse output.
  8. Motion requirement.
  9. PID/control requirement.
  10. Expansion capacity.
  11. Environmental rating.
  12. Software dan licensing.
  13. Spare part availability.
  14. Technical support.
  15. Cybersecurity dan network architecture jika terhubung ke jaringan.

Troubleshooting PLC untuk Teknisi

Ketika mesin tidak bekerja, jangan langsung menyimpulkan PLC rusak.

1. Periksa Power PLC

Pastikan supply voltage benar dan indicator CPU sesuai kondisi normal.

2. Periksa Mode CPU

Pastikan controller berada pada RUN mode jika memang seharusnya beroperasi.

3. Periksa Input

Jika sensor lapangan aktif tetapi bit/input PLC tidak aktif, periksa:

  • supply sensor;
  • wiring;
  • common;
  • PNP/NPN;
  • terminal;
  • input channel;
  • address/tag.

4. Periksa Program

Gunakan online monitoring untuk mengetahui logic atau interlock mana yang belum terpenuhi.

5. Periksa Output

Jika output logic ON tetapi equipment tidak bekerja, periksa:

  • output LED;
  • output voltage;
  • interposing relay;
  • fuse;
  • contactor coil;
  • wiring field.

6. Periksa Alarm dan Diagnostics

PLC modern dapat menyediakan diagnostic buffer, module status atau fault code yang sangat membantu mencari masalah.

Keselamatan: online monitoring PLC bukan pengganti prosedur isolasi energi. Jangan melakukan perubahan wiring, contactor, motor atau bagian bertegangan tanpa prosedur K3, LOTO dan verifikasi kondisi aman yang sesuai.

Standar PLC IEC 61131

Salah satu keluarga standar terpenting untuk programmable controller adalah IEC 61131.

Beberapa bagiannya mencakup:

  • IEC 61131-1 – General information;
  • IEC 61131-2 – Equipment requirements and tests;
  • IEC 61131-3 – Programming languages;
  • IEC 61131-5 – Communications;
  • IEC 61131-6 – Functional safety;
  • IEC 61131-9 – Single-drop digital communication interface untuk small sensors and actuators;
  • IEC 61131-10 – PLC open XML exchange format.

Per 2026, IEC menyediakan seri IEC 61131 yang antara lain mencantumkan IEC 61131-3:2025 sebagai edisi terbaru untuk programming languages.

Kesimpulan

PLC atau Programmable Logic Controller adalah controller yang dapat diprogram untuk mengendalikan mesin dan proses industri. PLC bekerja dengan membaca input, mengeksekusi program kemudian memperbarui output secara berulang.

Perangkat ini dapat menangani logic control, timer, counter, analog signal, PID, interlock, alarm, communication serta integrasi dengan HMI dan SCADA.

Untuk teknisi, memahami PLC tidak cukup hanya belajar Ladder Diagram dan bahasa pemrograman PLC. Pemahaman mengenai digital I/O, analog signal, sourcing/sinking, scan cycle, networking, interlock dan troubleshooting sama pentingnya agar mampu menangani sistem otomasi di lapangan.

Standar IEC 61131 juga terus berkembang. Salah satu pembaruan penting adalah IEC 61131-3:2025 Edition 4 yang kini mencantumkan ST, LD dan FBD sebagai suite programming language, dengan SFC untuk membantu menstrukturkan program.

Referensi

  1. Hackworth, F. D., Jr, & Hackworth, J. R. (2022). Programmable Logic Controllers: Programming Methods and Applications.
  2. Bolton, William. Programmable Logic Controller (PLC) Sebuah Penghantar. Penerbit Erlangga, Jakarta.
  3. Eriyadi, M., & Putra, I.M.P. (2020). "Implementasi Pengatur Kecepatan Ganda Motor pada Mesin Conveyor Penyortir Logam Otomatis". Jurnal Teknologi Terapan (JTT).
  4. Hardine, L., Hidayat, R., & Hadikusuma, R. S. (2022). "Analysis of The Influence of Star Delta Sistem in Reduce Electric Starting Surge in 3 Phase Motors". ELECTRICIAN – Jurnal Rekayasa dan Teknologi Elektro.
Randra Agustio Efryansah, S.T.
Randra Agustio Efryansah, S.T. Lulusan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, jurusan Teknik Elektro. Penulis artikel di bidang Instalasi Tenaga Listrik, Elektronika, dan Energi Terbarukan.

1 komentar

blockchain
21/01/23, 22.38 Hapus
Jadi nambah pengetahuan tentang programable logic controller