Cara Kerja Relay 220 V AC: Fungsi Koil dan Pin 14 Kaki

Daftar Isi
Relay merupakan salah satu komponen yang sering digunakan dalam rangkaian kontrol listrik


Relay merupakan salah satu komponen yang sering digunakan dalam rangkaian kontrol listrik, mulai dari panel kontrol mesin, sistem otomatisasi, hingga rangkaian pengendali motor. Meskipun bentuknya relatif kecil, komponen ini memiliki fungsi penting untuk menghubungkan dan memutus rangkaian listrik berdasarkan kondisi tertentu.

Nah, kali ini kita akan membahas cara kerja relay 220 V AC, mulai dari fungsi koil, perubahan posisi kontak, hingga cara membaca susunan kaki relay 14 pin. Buat kamu yang sering berhadapan dengan panel listrik atau sedang belajar rangkaian kontrol, memahami prinsip ini bakal membantu saat merakit maupun melakukan troubleshooting.

Apa Itu Relay 220 V AC?

Relay adalah perangkat elektromekanis yang menggunakan energi listrik pada koil untuk menggerakkan kontak. Ketika koil mendapatkan tegangan sesuai spesifikasinya, medan magnet terbentuk dan menggerakkan mekanisme kontak di dalam relay.

Relay dengan koil 220 V AC berarti koilnya dirancang untuk bekerja menggunakan tegangan bolak-balik 220 volt sesuai spesifikasi produk. Namun, angka 220 V AC pada koil tidak otomatis berarti semua kontak relay boleh digunakan untuk beban dengan tegangan dan arus sebesar itu. Rating kontak tetap harus diperiksa secara terpisah.

Catatan teknisi: Sebelum memasang relay, periksa diagram terminal, tegangan koil, serta rating tegangan dan arus kontak pada datasheet atau badan relay. Jangan hanya mengandalkan bentuk fisiknya.

Perbedaan Relay dan Kontaktor

Relay dan kontaktor sama-sama dapat digunakan untuk mengendalikan rangkaian listrik menggunakan sinyal kontrol. Keduanya juga memiliki koil dan kontak yang berubah posisi ketika koil diaktifkan.

Perbedaan utamanya terletak pada desain, rating, dan tujuan penggunaannya. Relay sering digunakan pada rangkaian kontrol, interlock, logika, dan pensinyalan. Sementara itu, kontaktor banyak digunakan untuk mengendalikan beban daya, termasuk motor listrik, sesuai rating perangkatnya.

Aspek Relay Kontaktor
Penggunaan umum Rangkaian kontrol, logika, dan pensinyalan Pengendalian beban daya, seperti motor listrik
Mekanisme Koil menggerakkan kontak Koil menggerakkan kontak utama dan, jika tersedia, kontak bantu
Rating Bervariasi menurut tipe dan model Bervariasi menurut kategori penggunaan dan model
Pemilihan Sesuaikan dengan fungsi kontrol dan beban kontak Sesuaikan dengan jenis beban, arus, tegangan, dan kondisi operasi

Jadi, jangan menganggap relay selalu hanya untuk daya rendah atau kontaktor selalu lebih cocok untuk semua rangkaian. Pemilihan perangkat tetap harus berdasarkan spesifikasi dan kebutuhan sistem.

Prinsip Kerja Relay 220 V AC

Prinsip kerja relay sebenarnya cukup sederhana. Ketika koil menerima tegangan yang sesuai, koil menghasilkan medan magnet. Medan magnet tersebut menarik bagian mekanis di dalam relay sehingga posisi kontak berubah.

Pada relay dengan kontak changeover, perubahan ini membuat kontak yang semula terhubung menjadi terputus, sedangkan kontak yang semula terputus menjadi terhubung.

1. Saat Koil Belum Mendapatkan Tegangan

Ketika koil belum diberi tegangan, relay berada dalam kondisi tidak aktif atau de-energized. Pada konfigurasi kontak changeover yang umum, terminal COM terhubung dengan NC, sedangkan terminal COM belum terhubung dengan NO.

  • COM (Common): Terminal bersama yang berpindah hubungan antara NC dan NO.
  • NC (Normally Closed): Kontak yang terhubung dengan COM ketika koil tidak aktif.
  • NO (Normally Open): Kontak yang tidak terhubung dengan COM ketika koil tidak aktif.

2. Saat Koil Mendapatkan Tegangan 220 V AC

Ketika koil relay yang memang memiliki rating 220 V AC diberi tegangan sesuai spesifikasi, medan magnet terbentuk dan menarik mekanisme kontak. Pada relay changeover, hubungan COM–NC akan terputus dan hubungan COM–NO akan tersambung.

Perubahan ini dapat dimanfaatkan untuk mengaktifkan lampu indikator, memberikan sinyal ke PLC, menjalankan rangkaian kontrol, atau mengendalikan perangkat lain selama rating kontak dan persyaratan instalasinya terpenuhi.

3. Saat Tegangan Koil Dilepas

Ketika tegangan koil dilepas, medan magnet menghilang dan mekanisme relay kembali ke posisi normal melalui mekanisme pegas atau konstruksi internalnya. Kontak COM–NO kembali terputus, sementara COM–NC kembali terhubung.

Proses ini terjadi berulang kali selama relay dioperasikan sesuai spesifikasi. Perlu diingat, kondisi kontak di atas berlaku untuk relay elektromekanis changeover biasa, bukan semua jenis relay.

Mengenal Susunan Kaki Relay 14 Pin

Kaki Relay 14 Pin


Relay 14 pin yang dibahas di sini menggunakan empat kelompok kontak changeover dan dua terminal koil. Setiap kelompok memiliki terminal COM, NC, dan NO. Dengan konfigurasi ini, satu relay dapat mengendalikan empat jalur kontak secara bersamaan.

Pada konfigurasi yang digunakan dalam artikel ini, susunan terminalnya adalah sebagai berikut.

Kelompok kontak COM NC NO
Kontak 1 9 1 5
Kontak 2 10 2 6
Kontak 3 11 3 7
Kontak 4 12 4 8
Koil 13 dan 14
Penting: Penomoran terminal dapat berbeda menurut merek dan model relay. Tabel ini bukan patokan universal. Cocokkan dengan diagram pin yang tercetak pada badan relay atau datasheet sebelum melakukan pengawatan.

Contoh Cara Kerja Kontak COM, NC, dan NO

Supaya lebih mudah dipahami, kita gunakan kelompok kontak pertama sebagai contoh. Pada konfigurasi di atas, terminal 9 adalah COM, terminal 1 adalah NC, dan terminal 5 adalah NO.

Kondisi relay Kontak 9–1 (COM–NC) Kontak 9–5 (COM–NO)
Koil tidak aktif Terhubung Terputus
Koil aktif Terputus Terhubung

Ketika koil aktif, hubungan terminal 9–1 berubah menjadi terbuka, sedangkan terminal 9–5 berubah menjadi terhubung. Kelompok kontak lainnya bekerja dengan prinsip yang sama pada relay empat kontak changeover ini.

Ingat, relay tidak otomatis menghasilkan tegangan pada terminal keluarannya. Kontak relay hanya menghubungkan atau memutus rangkaian eksternal yang dipasang padanya. Tegangan dan sumber daya pada rangkaian tersebut harus dirancang tersendiri.

Bagaimana Cara Menguji Relay 220 V AC?

Untuk pemeriksaan awal, gunakan diagram terminal dari pabrikan dan alat ukur yang sesuai. Pengujian kontinuitas dilakukan ketika rangkaian tidak bertegangan, sedangkan pengujian fungsi dengan tegangan harus mengikuti prosedur kerja yang aman.

  1. Periksa label relay. Pastikan jenis koil, tegangan kerja, diagram terminal, dan rating kontaknya.
  2. Periksa kondisi fisik. Amati apakah terdapat bekas panas berlebih, kerusakan pada rumah relay, atau terminal yang berubah warna.
  3. Uji kontak dalam kondisi tidak aktif. Dengan relay terlepas dari sumber listrik, gunakan mode kontinuitas atau resistansi multimeter untuk memeriksa hubungan COM–NC dan COM–NO.
  4. Periksa koil sesuai spesifikasi. Pengukuran resistansi koil dapat membantu mendeteksi kondisi terbuka atau gangguan tertentu, tetapi hasilnya perlu dibandingkan dengan spesifikasi pabrikan.
  5. Lakukan uji fungsi secara aman. Pengujian menggunakan tegangan 220 V AC hanya boleh dilakukan dengan prosedur, perlindungan, dan peralatan yang sesuai oleh personel kompeten.
Peringatan keselamatan: Tegangan 220 V AC berbahaya dan dapat menyebabkan sengatan listrik serius atau kematian. Jangan menyentuh terminal koil atau kontak ketika rangkaian bertegangan. Putuskan sumber listrik, cegah penyalaan kembali, dan pastikan kondisi bebas tegangan sebelum pemeriksaan fisik. Jangan melakukan pengujian langsung ke jaringan listrik tanpa perlindungan dan kompetensi yang sesuai.

Kesimpulan

Cara kerja relay 220 V AC didasarkan pada prinsip elektromagnetik. Ketika koil menerima tegangan sesuai spesifikasi, medan magnet menggerakkan kontak sehingga hubungan COM, NC, dan NO berubah. Ketika koil tidak aktif, kontak kembali ke posisi normal sesuai desain relay.

Pada relay 14 pin empat kontak changeover yang dibahas, terminal 13 dan 14 digunakan untuk koil, sedangkan empat kelompok kontak menggunakan terminal COM 9–12, NC 1–4, dan NO 5–8. Namun, penomoran tersebut wajib dicocokkan dengan diagram pada produk yang digunakan.

Jadi, sebelum memasang relay di panel kontrol, pahami fungsi setiap terminal, pastikan rating koil dan kontak sesuai, serta utamakan keselamatan saat melakukan pengujian. Memahami prinsip dasar ini akan mempermudah pekerjaan perakitan dan troubleshooting rangkaian kontrol listrik di lapangan.

Baca juga: Komponen Panel Listrik.

FAQ: Pertanyaan Seputar Cara Kerja Relay 220 V

1. Apakah relay 220 V AC bisa menggunakan tegangan 12 V DC?

Tidak boleh diasumsikan bisa. Jika koil dirancang untuk 220 V AC, tegangan 12 V DC umumnya tidak cukup untuk mengoperasikannya. Gunakan tegangan dan jenis sumber yang sesuai dengan label koil.

2. Apa fungsi pin 13 dan 14 pada relay 14 pin?

Pada konfigurasi yang dibahas, pin 13 dan 14 merupakan terminal koil. Pastikan kembali diagram pada badan relay karena susunan terminal dapat berbeda antarproduk.

3. Apa perbedaan kontak NC dan NO?

NC terhubung dengan COM ketika koil tidak aktif, sedangkan NO tidak terhubung dengan COM pada kondisi tersebut. Ketika relay changeover aktif, hubungan kontak berubah.

4. Apakah relay 14 pin memiliki empat kontak?

Relay 14 pin dengan konfigurasi empat changeover yang dibahas memiliki empat kelompok kontak, masing-masing terdiri dari COM, NC, dan NO, ditambah dua terminal koil. Namun, jumlah dan fungsi pin harus dipastikan berdasarkan tipe relay yang digunakan.

5. Apakah relay bisa langsung digunakan untuk mengendalikan motor listrik?

Hal itu bergantung pada rating kontak dan karakteristik beban motor, termasuk arus awal. Untuk pengendalian motor, gunakan perangkat yang memang sesuai dengan kategori penggunaan dan kebutuhan proteksi motor. Relay kontrol biasa belum tentu cocok untuk menyambung atau memutus daya motor secara langsung.

Catatan edukasi: Artikel ini membahas prinsip umum relay elektromekanis. Pengawatan dan pengujian pada instalasi bertegangan harus mengikuti petunjuk pabrikan, ketentuan keselamatan, dan standar instalasi yang berlaku.

Randra Agustio Efryansah, S.T.
Randra Agustio Efryansah, S.T. Lulusan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, jurusan Teknik Elektro. Penulis artikel di bidang Instalasi Tenaga Listrik, Elektronika, dan Energi Terbarukan.

Posting Komentar