Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU): Cara Kerja, Komponen dan Prinsip Kerjanya

Daftar Isi
Pembangkit Listrik Tenaga Uap PLTU dan cara kerjanya
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sumber foto: Pixabay.

Kelasteknisi.com | Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah pembangkit listrik yang menggunakan energi uap untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator. Pada PLTU konvensional, panas dari pembakaran bahan bakar digunakan untuk memanaskan air di boiler hingga menghasilkan uap bertekanan dan bertemperatur tinggi.

Uap tersebut dialirkan ke turbin sehingga energi termalnya berubah menjadi energi mekanik berupa putaran poros. Generator kemudian mengubah energi mekanik tersebut menjadi energi listrik melalui prinsip induksi elektromagnetik.

Di Indonesia, istilah PLTU sangat identik dengan PLTU batu bara karena batu bara menjadi salah satu bahan bakar utama pembangkit termal. Namun secara teknis, istilah pembangkit tenaga uap mengacu pada penggunaan siklus uap, bukan semata-mata jenis bahan bakarnya.

Alur energi PLTU:
Energi kimia atau panas → energi panas pada uap → energi mekanik turbin → energi listrik pada generator.

Apa Itu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)?

PLTU adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan uap sebagai fluida kerja untuk memutar turbin uap. Uap bertekanan tinggi dihasilkan dari air yang dipanaskan di boiler atau steam generator.

Pada PLTU batu bara, panas diperoleh dari proses pembakaran batu bara di furnace. Energi panas tersebut diserap oleh permukaan pemanas boiler hingga air berubah menjadi uap dan selanjutnya dapat dipanaskan lagi menjadi superheated steam.

Uap berenergi tinggi kemudian diekspansikan melalui tingkat-tingkat turbin. Saat tekanan dan temperatur uap turun, sebagian energi uap diubah menjadi putaran poros turbin. Poros turbin dikopel dengan generator untuk menghasilkan listrik.

Skema cara kerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap PLTU
Skema sederhana Pembangkit Listrik Tenaga Uap.

Prinsip Kerja PLTU

PLTU konvensional pada dasarnya bekerja menggunakan siklus Rankine. Air dipanaskan menjadi uap, uap melakukan kerja pada turbin, kemudian dikondensasikan kembali menjadi air dan dipompa menuju boiler untuk mengulangi siklus.

Dalam instalasi nyata, siklus tersebut jauh lebih kompleks karena terdapat superheater, reheater, feedwater heater, economizer, deaerator dan berbagai sistem bantu untuk meningkatkan efisiensi serta menjaga kualitas air-uap.

Cara Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap

Secara sederhana, urutan cara kerja PLTU dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Air kondensat dipompa menuju sistem feedwater.
  2. Air diproses dan dipanaskan secara bertahap sebelum memasuki boiler.
  3. Bahan bakar dan udara dibakar di furnace untuk menghasilkan energi panas.
  4. Panas pembakaran memanaskan air hingga berubah menjadi uap.
  5. Uap dipanaskan lebih lanjut menjadi superheated steam.
  6. Uap bertekanan tinggi masuk ke turbin dan memutar sudu turbin.
  7. Poros turbin memutar rotor generator.
  8. Generator menghasilkan energi listrik.
  9. Uap keluar dari turbin dialirkan menuju kondensor.
  10. Di kondensor, uap berubah kembali menjadi air.
  11. Air kondensat dipompa kembali ke siklus feedwater.
  12. Proses berlangsung secara berulang selama pembangkit beroperasi.

Generator pada PLTU bekerja berdasarkan prinsip yang sama dengan generator pada pembangkit lain. Pembahasan lebih lengkap dapat dibaca pada artikel generator listrik dan cara kerjanya.

Siklus Rankine pada PLTU

Siklus Rankine merupakan siklus termodinamika dasar yang digunakan untuk menjelaskan pembangkit tenaga uap. Secara ideal, terdapat empat proses utama yaitu pemompaan air, penambahan panas di boiler, ekspansi uap di turbin, dan pelepasan panas di kondensor.

Pada PLTU modern, siklus Rankine dapat dimodifikasi menggunakan reheat dan regenerative feedwater heating untuk meningkatkan kinerja pembangkit dan mengurangi kelembapan uap pada tahap akhir turbin.

Catatan: istilah “siklus tertutup” tidak berarti air sama sekali tidak pernah ditambah. Dalam operasi nyata tetap terdapat kehilangan air sehingga diperlukan make-up water dengan kualitas yang dikontrol.

Komponen Utama PLTU dan Fungsinya

PLTU terdiri dari banyak peralatan yang saling terhubung. Boiler, turbin, generator dan kondensor merupakan bagian utama, tetapi pembangkit juga membutuhkan sistem bahan bakar, air, pendingin, gas buang, kontrol serta sistem kelistrikan.

Berikut komponen PLTU yang penting dipahami.

1. Boiler atau Steam Generator

Boiler berfungsi memindahkan energi panas dari pembakaran atau sumber panas lain ke air hingga menghasilkan uap dengan kondisi yang diperlukan oleh turbin.

Boiler PLTU bukan sekadar sebuah tangki untuk mendidihkan air. Pada pembangkit besar terdapat sejumlah permukaan pemanas dan sistem yang dapat meliputi economizer, evaporator atau water wall, superheater dan reheater.

2. Furnace

Furnace adalah ruang tempat proses pembakaran berlangsung pada PLTU berbahan bakar. Bahan bakar dan udara diatur agar proses pembakaran menghasilkan panas sesuai kebutuhan boiler.

Pada PLTU batu bara pulverized coal, batu bara terlebih dahulu digiling menjadi ukuran sangat halus sebelum dibawa menuju burner bersama aliran udara.

3. Economizer

Economizer memanfaatkan panas gas buang untuk memanaskan feedwater sebelum memasuki bagian evaporasi boiler.

Pengambilan kembali panas yang sebelumnya masih berada pada gas buang membantu meningkatkan efisiensi termal sistem.

4. Superheater

Superheater menaikkan temperatur uap jenuh hingga menjadi superheated steam. Uap dengan temperatur yang lebih tinggi kemudian digunakan untuk melakukan kerja pada turbin.

Temperatur uap harus dikontrol dengan baik karena terlalu tinggi dapat meningkatkan tekanan termal pada material turbin maupun pipa.

5. Reheater

Pada unit yang menggunakan reheat cycle, uap yang telah melewati bagian high-pressure turbine dikembalikan ke boiler untuk dipanaskan kembali.

Uap kemudian masuk ke tingkat turbin berikutnya. Reheat membantu meningkatkan efisiensi siklus sekaligus mengurangi kelembapan uap pada bagian akhir ekspansi.

6. Turbin Uap

Turbin uap mengubah energi termal dan tekanan uap menjadi energi mekanis dalam bentuk putaran poros.

Pada pembangkit berkapasitas besar, turbin dapat terdiri dari beberapa bagian seperti high-pressure, intermediate-pressure dan low-pressure turbine.

Pelajari prinsip turbin secara lebih lengkap pada artikel jenis-jenis turbin dan prinsip kerjanya.

7. Generator

Generator mengubah energi mekanik dari poros turbin menjadi energi listrik melalui induksi elektromagnetik.

Generator pembangkit besar umumnya menggunakan generator sinkron tiga fasa. Output generator kemudian masuk ke sistem switchgear dan transformator untuk disalurkan ke jaringan.

8. Kondensor

Kondensor mengubah uap exhaust dari turbin menjadi air dengan melepaskan panas ke cooling water.

Selain mengembalikan uap menjadi cair, kondensor membantu mempertahankan tekanan rendah atau vakum pada exhaust turbin sehingga ekspansi uap dapat berlangsung lebih efektif.

9. Condensate Extraction Pump

Condensate Extraction Pump atau CEP memindahkan air hasil kondensasi dari hotwell kondensor menuju sistem pengolahan dan pemanasan feedwater.

Pompa ini menjadi bagian penting dalam menjaga sirkulasi air-uap tetap berlangsung.

10. Deaerator

Deaerator digunakan untuk mengurangi gas terlarut seperti oksigen dari feedwater. Oksigen terlarut dapat mempercepat korosi pada sistem boiler dan perpipaan.

Deaerator juga dapat berfungsi sebagai bagian dari sistem pemanasan feedwater.

11. Boiler Feed Pump

Boiler Feed Pump atau BFP menaikkan tekanan feedwater agar dapat masuk ke boiler yang bekerja pada tekanan tinggi.

Pada unit besar, boiler feed pump termasuk salah satu auxiliary equipment dengan kebutuhan daya yang cukup besar.

12. Cooling Water System

Cooling water system berfungsi membuang panas dari kondensor. Sistem pendinginan dapat menggunakan cooling tower, once-through cooling atau konfigurasi lain sesuai desain pembangkit dan ketersediaan sumber air.

Karena itu PLTU tidak harus selalu berada di tepi laut. Lokasi ditentukan berdasarkan kombinasi sumber air, pasokan bahan bakar, jaringan listrik, kondisi lingkungan, logistik dan aspek teknis-ekonomis lainnya.

13. Cooling Tower

Pada sistem recirculating cooling, cooling tower membuang panas dari cooling water ke atmosfer sebelum air digunakan kembali untuk mendinginkan kondensor.

Cooling tower tidak digunakan pada setiap PLTU karena sistem pendinginan dapat berbeda-beda.

14. Demineralization Plant

Demineralization plant menghasilkan air dengan kadar mineral dan ion yang sangat rendah untuk kebutuhan make-up sistem air-uap.

Kualitas air sangat penting karena kontaminan dapat menyebabkan scaling, deposit, korosi dan gangguan pada boiler maupun turbin.

15. Desalination Plant

Pada PLTU yang menggunakan air laut sebagai sumber air baku, desalination plant dapat digunakan untuk mengurangi kandungan garam sebelum air diproses lebih lanjut.

Air hasil desalinasi tidak otomatis digunakan sebagai cooling water kondensor. Untuk menjadi make-up water siklus boiler, air biasanya masih memerlukan pengolahan lanjutan sesuai persyaratan kualitas air pembangkit.

16. Coal Handling System

Pada PLTU batu bara, coal handling system menerima, menyimpan dan memindahkan batu bara dari area unloading menuju bunker atau sistem penggilingan.

Peralatannya dapat mencakup conveyor, crusher, stacker-reclaimer, bunker dan berbagai alat proteksi.

17. Pulverizer atau Coal Mill

Pada boiler pulverized coal, coal mill menggiling batu bara menjadi serbuk halus agar lebih mudah terbakar.

Serbuk batu bara kemudian dibawa oleh aliran udara menuju burner.

18. Forced Draft dan Induced Draft Fan

Forced Draft Fan atau FD Fan memasok udara yang diperlukan untuk pembakaran, sedangkan Induced Draft Fan atau ID Fan membantu menarik gas buang melalui boiler dan sistem pengendalian emisi menuju stack.

Konfigurasi fan dapat berbeda tergantung desain boiler.

19. Electrostatic Precipitator

Pada PLTU batu bara, Electrostatic Precipitator atau ESP dapat digunakan untuk menangkap partikulat atau fly ash dari gas buang sebelum dilepas melalui cerobong.

Efektivitasnya bergantung pada desain, kondisi operasi dan karakteristik partikulat.

20. Flue Gas Desulfurization

Pada pembangkit yang dilengkapi sistem tersebut, Flue Gas Desulfurization atau FGD digunakan untuk mengurangi emisi sulfur dioksida dari gas buang.

Konfigurasi teknologi pengendalian emisi berbeda antarunit dan harus mengikuti persyaratan lingkungan yang berlaku.

21. Transformator

Tegangan generator biasanya dinaikkan menggunakan generator step-up transformer sebelum daya dikirim ke jaringan transmisi.

Baca juga perbedaan transformator step-up dan step-down.

22. Switchgear dan Sistem Proteksi

Switchgear menghubungkan dan memutus peralatan listrik, sedangkan sistem proteksi mendeteksi kondisi abnormal dan memerintahkan circuit breaker melakukan trip jika diperlukan.

Proteksi generator, transformator, busbar dan auxiliary system merupakan bagian penting dalam pengoperasian pembangkit.

Sistem Air dan Uap pada PLTU

Air pada PLTU harus memiliki kualitas yang sangat baik. Pada tekanan dan temperatur tinggi, kandungan mineral atau kontaminan yang tampak kecil sekalipun dapat menimbulkan deposit, scaling atau korosi.

Karena itu pembangkit menerapkan water chemistry control untuk parameter seperti conductivity, pH, dissolved oxygen dan parameter lain sesuai desain serta prosedur kimia unit.

Sistem Pendingin PLTU

Salah satu bagian terbesar dari keseimbangan energi PLTU adalah panas yang harus dibuang melalui kondensor. Cooling system mengambil panas dari uap exhaust sehingga uap kembali menjadi air.

Secara umum sistem pendinginan dapat berupa:

  • Once-through cooling, air pendingin diambil dari sumber air, melewati kondensor dan dikembalikan sesuai sistem yang dirancang.
  • Recirculating cooling, cooling water digunakan kembali setelah panasnya dilepas melalui cooling tower.
  • Sistem lain sesuai kondisi lokasi dan desain pembangkit.

PLTU Batu Bara dan Proses Pembakaran

Pada PLTU batu bara pulverized coal, batu bara dari coal yard dialirkan menuju crusher dan bunker, kemudian masuk ke coal mill. Batu bara digiling menjadi partikel halus agar luas permukaan kontaknya dengan udara meningkat.

Serbuk batu bara dan udara dibawa menuju burner untuk dibakar di furnace. Panas pembakaran diserap permukaan boiler, sementara gas buang melewati berbagai heat exchanger dan perangkat pengendalian emisi sebelum keluar melalui stack.

Kelebihan PLTU

PLTU telah digunakan dalam skala besar selama puluhan tahun karena teknologinya matang dan mampu menghasilkan daya besar secara kontinu.

Namun kelebihan sebuah PLTU sangat bergantung pada desain, jenis bahan bakar, sistem jaringan dan kondisi ekonomi setempat.

1. Dapat Dibangun dalam Kapasitas Besar

Steam turbine generator dapat digunakan untuk unit pembangkit berkapasitas besar sehingga mampu memasok energi dalam jumlah tinggi ke sistem tenaga.

2. Teknologi Sudah Matang

Boiler, steam turbine, generator, condenser dan auxiliary system merupakan teknologi yang telah lama digunakan sehingga metode desain, operasi dan perawatannya telah berkembang luas.

3. Dapat Beroperasi dalam Waktu Panjang

PLTU dirancang untuk menjalankan operasi pembangkitan dalam waktu lama sesuai kondisi operasi dan maintenance yang ditetapkan.

4. Beragam Sumber Panas Dapat Digunakan

Secara konsep, siklus tenaga uap dapat memperoleh panas dari sumber yang berbeda. Karena itu teknologi turbin uap tidak terbatas hanya pada pembakaran batu bara.

Kekurangan PLTU

Selain kelebihannya, PLTU juga memiliki sejumlah keterbatasan terutama terkait kebutuhan investasi, kompleksitas fasilitas dan dampak lingkungan.

1. Investasi dan Infrastruktur Besar

Pembangunan PLTU membutuhkan boiler, turbin, generator, kondensor, sistem air, bahan bakar, sistem lingkungan, switchyard serta berbagai auxiliary plant.

2. Start-up Tidak Secepat Pembangkit Tertentu

Boiler dan turbin harus dipanaskan dengan laju yang dikontrol untuk menghindari thermal stress. Karena itu start-up PLTU umumnya lebih kompleks dibanding generator diesel atau beberapa jenis turbin gas.

3. Membutuhkan Sistem Pendinginan

Kondensor harus membuang panas dalam jumlah besar sehingga cooling system menjadi salah satu sistem penting pada PLTU.

4. Dampak Lingkungan

Pada PLTU berbahan bakar fosil, pembakaran menghasilkan karbon dioksida. Bergantung pada bahan bakar dan teknologi, gas buang juga dapat mengandung partikulat, sulfur oksida, nitrogen oksida dan polutan lainnya.

Karena itu pembangkit memerlukan pengendalian emisi dan pengelolaan lingkungan sesuai regulasi.

Efisiensi PLTU

Efisiensi PLTU merupakan perbandingan antara energi listrik yang dihasilkan dan energi panas yang masuk dari bahan bakar atau sumber panas.

Nilainya tidak sama untuk semua pembangkit. Efisiensi dipengaruhi tekanan dan temperatur uap, desain boiler, turbine efficiency, condenser vacuum, feedwater heating, reheat, auxiliary load serta kondisi operasi.

Secara sederhana:

η = Pout / Qin × 100%

Artinya, tidak seluruh energi panas bahan bakar dapat berubah menjadi listrik. Sebagian energi dilepas melalui kondensor, gas buang dan berbagai kerugian lainnya.

Subcritical, Supercritical dan Ultra-Supercritical

PLTU juga sering dibedakan berdasarkan kondisi tekanan dan temperatur siklus uap. Istilah subcritical, supercritical dan ultra-supercritical berkaitan dengan teknologi boiler serta parameter steam cycle.

Pada sistem supercritical, boiler beroperasi di atas titik kritis air sehingga tidak terjadi pemisahan fase cair-uap dengan cara yang sama seperti pada boiler drum subcritical. Teknologi dengan parameter uap lebih tinggi dapat meningkatkan efisiensi, tetapi juga membutuhkan material serta desain yang mampu menahan temperatur dan tekanan lebih tinggi.

PLTU dan Generator Sinkron

Generator PLTU umumnya merupakan generator sinkron yang digerakkan oleh steam turbine. Karena unit terhubung ke sistem tenaga, parameter seperti tegangan, frekuensi, daya aktif dan daya reaktif harus dikendalikan.

Steam turbine governor berperan dalam pengaturan tenaga mekanik, sementara excitation system dan AVR mengatur eksitasi generator serta tegangan terminal.

PLTU di Sistem Kelistrikan Indonesia

PLTU masih mempunyai porsi yang besar dalam sistem kelistrikan Indonesia. Dalam Statistik PLN 2025, kapasitas PLTU yang dicatat mencapai sekitar 21.278,90 MW atau sekitar 26,54% dari kapasitas terpasang nasional dalam statistik tersebut.

Data tersebut menunjukkan bahwa teknologi pembangkit uap masih menjadi salah satu bagian penting dari sistem tenaga Indonesia, meskipun pengembangan sistem ketenagalistrikan juga bergerak menuju peningkatan energi terbarukan dan pengurangan emisi.

Perbedaan PLTU dan PLTG

PLTU dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) sama-sama menggunakan generator, tetapi prime mover dan siklus termodinamikanya berbeda.

Parameter PLTU PLTG
Prime mover Turbin uap Turbin gas
Fluida utama turbin Uap air Gas hasil pembakaran
Siklus dasar Rankine Brayton
Start-up Umumnya lebih lambat Umumnya lebih cepat

Perbedaan PLTU dan PLTGU

PLTGU atau Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap menggabungkan turbin gas dengan siklus uap. Gas buang panas dari turbin gas dimanfaatkan oleh Heat Recovery Steam Generator atau HRSG untuk menghasilkan uap yang kemudian menggerakkan turbin uap.

Dengan memanfaatkan panas gas buang, combined-cycle dapat meningkatkan pemanfaatan energi dibanding hanya membuang panas exhaust turbin gas ke lingkungan.

PLTU dan Dampak Lingkungan

Dampak lingkungan PLTU bergantung pada sumber panas dan bahan bakar yang digunakan. Untuk PLTU batu bara, isu utamanya mencakup emisi CO2, partikulat, SOx, NOx, limbah abu, kebutuhan air dan dampak termal dari cooling system.

Peralatan pengendalian seperti ESP, bag filter, FGD, low-NOx burner maupun sistem lainnya dapat digunakan untuk mengurangi jenis emisi tertentu. Namun teknologi tersebut tidak menghilangkan seluruh dampak lingkungan dan harus dioperasikan sesuai desain.

Fly Ash dan Bottom Ash pada PLTU Batu Bara

Pembakaran batu bara menghasilkan abu. Partikel abu halus yang ikut terbawa bersama gas buang disebut fly ash, sedangkan abu yang terkumpul di bagian bawah furnace disebut bottom ash.

Keduanya memerlukan sistem penanganan dan pemanfaatan atau pengelolaan sesuai karakteristik material serta ketentuan yang berlaku.

Proteksi pada PLTU

PLTU mempunyai banyak lapisan proteksi karena gangguan dapat berasal dari sisi mekanik, proses maupun listrik.

Pada generator dan sistem kelistrikan, proteksi dapat mencakup differential protection, overcurrent, earth fault, reverse power, loss of excitation, over/under voltage, over/under frequency dan proteksi lain sesuai desain.

Untuk memahami perangkat pemutus pada sistem pembangkit, baca pemutus tenaga atau circuit breaker.

Sistem Kontrol PLTU

PLTU modern menggunakan sistem kontrol terintegrasi untuk mengatur boiler, turbin, generator dan auxiliary plant. Operator memonitor ribuan parameter seperti pressure, temperature, flow, level, vibration, current dan voltage.

Sistem DCS dan SCADA membantu operator memantau proses, alarm, trend dan kondisi equipment. Pelajari konsepnya pada artikel sistem SCADA.

Standar yang Berkaitan dengan PLTU

Desain PLTU melibatkan banyak disiplin sehingga tidak ada satu standar tunggal yang mengatur seluruh pembangkit. Untuk steam turbine, salah satu referensi internasional penting adalah IEC 60045-1:2020, yang berlaku terutama untuk turbin uap horizontal di darat yang menggerakkan generator listrik.

IEC mencantumkan IEC 60045-1:2020 tetap memiliki stability date hingga 2030. Untuk generator listrik berputar, IEC 60034-1:2026 merupakan edisi terbaru mengenai rating dan performance rotating electrical machines.

Standar proyek aktual tetap perlu disesuaikan dengan jenis peralatan, spesifikasi kontrak, persyaratan pabrikan, regulasi nasional serta ketentuan keselamatan yang berlaku.

Kelebihan dan Kekurangan PLTU Secara Ringkas

Kelebihan Kekurangan
Dapat dibangun berkapasitas besar Investasi dan fasilitas kompleks
Teknologi sudah matang Start-up relatif lebih lama
Dapat beroperasi kontinu Membutuhkan sistem pendinginan besar
Sumber panas dapat bervariasi Dampak lingkungan tergantung sumber panas/bahan bakar

Kesimpulan

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) bekerja dengan mengubah energi panas menjadi energi uap, kemudian menjadi energi mekanik pada turbin dan akhirnya menjadi energi listrik pada generator.

Komponen utamanya meliputi boiler, turbin uap, generator dan kondensor. Namun pada pembangkit nyata terdapat banyak sistem pendukung seperti economizer, superheater, reheater, feedwater system, cooling water, water treatment, coal handling, gas cleaning, transformator, switchgear serta sistem kontrol.

Memahami PLTU tidak cukup hanya mengetahui bahwa batu bara dipakai untuk memanaskan air. Teknisi juga perlu memahami siklus Rankine, kualitas air-uap, proses pembakaran, kerja kondensor, pengendalian turbin-generator serta hubungan PLTU dengan sistem tenaga listrik.

FAQ Pembangkit Listrik Tenaga Uap

Apa yang dimaksud dengan PLTU?

PLTU adalah pembangkit listrik yang menggunakan uap untuk memutar turbin yang kemudian menggerakkan generator listrik.

Uap dihasilkan dengan memberikan panas pada air menggunakan boiler atau steam generator.

Apakah semua PLTU menggunakan batu bara?

Tidak. PLTU adalah istilah untuk pembangkit yang menggunakan siklus tenaga uap. Sumber panasnya dapat berbeda tergantung desain pembangkit.

Namun di Indonesia, istilah PLTU paling sering digunakan untuk pembangkit uap berbahan bakar batu bara.

Apa komponen utama PLTU?

Komponen utama PLTU meliputi boiler atau steam generator, turbin uap, generator dan kondensor.

Dalam instalasi lengkap juga terdapat feedwater system, cooling system, sistem bahan bakar, water treatment, switchgear, transformator dan sistem kontrol.

Apa fungsi boiler pada PLTU?

Boiler berfungsi memindahkan energi panas ke air hingga menghasilkan uap dengan tekanan dan temperatur yang dibutuhkan turbin.

Pada unit besar, boiler memiliki economizer, water wall atau evaporator, superheater dan dapat dilengkapi reheater.

Apa fungsi kondensor pada PLTU?

Kondensor mengubah uap exhaust turbin menjadi air dengan melepaskan panas ke cooling water.

Kondensor juga membantu mempertahankan tekanan rendah di sisi exhaust turbin untuk mendukung proses ekspansi uap.

Apa fungsi turbin pada PLTU?

Turbin mengubah energi uap menjadi energi mekanik berupa putaran poros.

Putaran tersebut digunakan untuk menggerakkan generator.

Apa fungsi generator pada PLTU?

Generator mengubah energi mekanik dari turbin menjadi energi listrik melalui prinsip induksi elektromagnetik.

Mengapa air PLTU digunakan berulang kali?

Air-uap bersirkulasi dalam siklus sehingga air hasil kondensasi dapat digunakan kembali setelah melalui proses feedwater.

Meskipun demikian, sistem nyata tetap membutuhkan make-up water untuk menggantikan kehilangan air dalam operasi.

Apa itu superheated steam?

Superheated steam adalah uap yang temperaturnya dinaikkan di atas temperatur saturasi pada tekanannya.

Pada PLTU, superheated steam digunakan untuk memasok energi ke turbin dengan kondisi yang dirancang.

Apa perbedaan PLTU dan PLTD?

PLTU menggunakan turbin uap sebagai prime mover, sedangkan PLTD menggunakan mesin diesel untuk langsung memutar generator.

PLTD umumnya lebih cepat start, sedangkan PLTU memiliki sistem termal yang jauh lebih kompleks.

Randra Agustio Efryansah, S.T.
Randra Agustio Efryansah, S.T. Lulusan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, jurusan Teknik Elektro. Penulis artikel di bidang Instalasi Tenaga Listrik, Elektronika, dan Energi Terbarukan.

2 komentar

TeknoKu
21/01/23, 22.44 Hapus
Materi yang bermanfaatmenambah pengetahuan tentang pembangkit listrik tenaga uap.
Terima kasih banyak
Sama-sama kak, terima kasih telah berkunjung